Dicari: Rumah luas, strategis, fas lengkap, dan MURAH

00.16

Rumah idaman (vers. tidak realistis)
Err, tapi sayang ini rumah udah dibeli bapaknya the Duchess *jleb*

Punya rumah sendiri? Harapan. Siapa pula yang enggak pengen punya? Pengalaman pribadi pernah hidup numpang setelah nikah, walaupun di rumah orangtua sendiri, makin membulatkan tekad untuk punya rumah.
Satu setengah tahun pertama, tinggal di rumah mertua. Rasanya....(.........) please fill in the blank *helpless*
Satu setengah tahun kedua, tinggal di rumah orangtua. Gimana suamiku? (.......)
Satu setengah tahun ketiga, dipinjamin rumah sama orangtua. Bersyukur. 
Hidup bareng ortu/mertu enggak selalu negatif karena setidak-tidaknya kita masih bisa nabung lebih banyak. Ya iayalah, kan biaya hidup masih ada yang ditanggung ortu/mertu. Ngaku......!!!! *tutupmuka*

Hidup mandiri, walau dengan status di rumah pinjaman ortu, paling tidak sudah menaikkan level satu titik diatas. Tapi masalahnya, kalau rumah ini mau dijual, kan kita sekeluarga kudu angkat kaki dan harus beli rumah sendiri. 
Nah, daripada ketar-ketir nunggu 'diusir' dari rumah dan setelah putar otak lihat saldo buku tabungan, maka kita memberanikan diri (nekad) beli rumah.

Kriteria rumah yang dicari juga enggak neko-neko: luas tanah cukup (kalo bisa >100m2), ada garasi/carport, min 2 kamar tidur, bebas banjir, daerah Tembalang (sekitar Undip), Srondol atau Banyumanik (perum perumnas), dan MURAH.
Cari rumahnya dimana? Iklan kecik koran lokal, internet, tanya teman, dateng ke pameran perumahan dan survey ke lokasi (niat banget).

Jadilah sejak hari itu aku punya kerja sampingan: melototin iklan kecik 'rumah dijual' tiap hari. Kalo deskripsinya cocok, dilingkarin, dicatet, trus ditelpon.
Yang paling bikin kesel, kadang deskripsinya enggak sesuai kenyataan. Tetap aja aku kena jebakan batman
Kasus 1
di iklan kecik "Dijual, rmh. LTxx,LBxx, Rpxx, Banyumanik. 08xxxxxxxxxx" Kayaknya cocok nih. Coba aku telp.
Aku (A): "Mau tanya rumah yang dijual, Pak."
Bapak di ujung telp (B): "Ya, mba"
A: "Rumahnya didaerah mana?"
B: "Oh, ini di Gedawang. Itu lho mba, dekatnya jalan toll yang baru. Mba, masuk aja dari Mega Ruber, bla...bla...bla"
A: "Lha, Pak, kan di iklan katanya daerah Banyumanik, kok ini Gedawang?"
B: "Kan masuk Kec. Banyumanik, mba"
Aku: ......^$*?"((^&!$#%.....

Kasus 2.
di internet "Dijual, rmh. LTxx,LBxx, xKT, xKM, HM, bla...bla...Rpxx, Tembalang. 08xxxxxxxxxx" lengkap dengan alamat dan gambar rumah.
Datanglah kita melihat lokasi. Kok rumahnya tidak sesuai gambar yak? Coba telp ah.
A: "Pak, rumah yang di iklan di internet di alamat xxxx sudah terjual belum?"
B: "Oh sudah mba"
A: "Aduh pak, ditulis donk di internet "SOLD" gitu, biar enggak kecele"
B: ...cengengesan....

Kasus 3.
iklan perumahan di koran. "Cluster D dekat Tembalang. Tipe xx/xx. Harga mulai Rpxx. Stok terbatas. Hubungi 74xxxxxx" Percakapannya aku ringkas aja ya, soalnya kalau bicara dengan marketing perumahan biasanya lama dan macem2.
A: "Tipe rumahnya berapa aja? Harganya berapa?Sudah HM?"
Mas marketing (M): "Oh, ini Bu, bla..bla..bla.."
M: "Kita rencananya mau bangun 23 unit, sekarang sudah terjual 18, kalau ibu berminat, segera saja bu" (sambil berbusa-busa)
A: "Lokasinya dimana sih mas?"
M: "Oh, ibu dari arah sini trus kesana trus kekiri........"
Jreng..jreng...pas nyampe di lokasi. Lah, kok masih tanah kosong seluas + 3.000m2 dekat sawah, yang baru dikapling-kapling pake tali rafia? Hunian cuman segitu emang bisa jadi satu er-te? Mau tetanggan ama siapa?Jarene wes tahap pembangunan....*nyucimasmarketing*

Enggak cuman kasus diatas. Kadang juga kita enggak cocok karena rumahnya full bangunan (sampe enggak ada tanahnya), rumahnya terlalu masuk gang, mobil enggak bisa masuk, dll. Biarpun duitnya ngepas, tapi boleh lah kriterianya jadi bejibun *bergayasombong*. 
Kalau diitung-itung, udah hampir 50 rumah aku catet di list, 20 rumah disurvei, 10 brosur rumah jadi koleksi, sementara Ayah juga pernah bela-belain nyisir kawasan Ngesrep, tiap jalan dikiterin pakai sepeda motor kalau-kalau ada tulisan "DIJUAL". Sabar....

Kita malah akhirnya menemukan rumah idaman lewat internet, setelah aku browsing berhari-hari.
"Dijual rumah di G, LBxx,LTxx. Harga Rpxxx, HM...bla..bla..bla" 
Ealah, kok kriterianya ok, pas survey ke lokasi cocok (deket Undip), akses kemana-mana dekat, trus kita telpon pemiliknya juga ramah, yasud kita deal-kan daripada deal-kan. Bonek tenan lah.
Kawasan G ini sebenarnya pernah kita datengin sewaktu aku masih hamil, sekitar 2007, tapi waktu itu kita belum punya uang buat depe. Ya udah, keinginan beli rumah disimpen dalam hati ajah. Eh, ternyata, kalau emang udah berjodoh punya rumah disitu, enggak akan kemana lagi. 

Ketika rumah ala the Duchess belum bisa dibeli, kita sekeluarga sudah sangat puas bersyukur masih bisa punya rumah ala Keluarga Ingalls.

Rumah idaman (vers. realistis)
small and nice

Langkah selanjutnya: Pikirkan bagaimana cara membeli berhutang *pingsan*

You Might Also Like

1 komentar

  1. Hwahahaha ... Tulisan yang seruuu n menarik Mba ... Nice!!!

    Kebetulan saya pernah mengalami nya juga ... Tapi dari 2 sisi ...

    Dari sisi pembeli yang "ati karep duit cupet" ... Huehehe ... Yang akhirnya dapet perumahan baru di daerah Ungaran Timur ... Sama juga Mba, pas survey jg masih tanah kosong kapling-an, dan baru jadi satu tahun (awal 2015) setelah DP ... Alhamdulillah sekarang sudah jadi perumahan ramai sekali hingga harus bikin RW sendiri (skitar 200 lebih KK baru) ...

    Trus gara-gara beli rumah itu malah jd tertarik menggeluti dunia properti ... Akhirnya kecemplung lah di dunia marketing property ... Mulai dari marketing cluster, marketing pameran sampe marketing freelance kalo ada temen2 deket yang mau jual/cari tanah/rumah ...

    Dan ternyata ... Dunia property memang sangat menarik ... Semoga suatu saat bisa jadi developer ... Amiiin!

    BalasHapus

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe