Everybody Needs Good Neighbours

23.29


*dimuat di Mommies Daily




Sebagai orang perantauan yang jauh dari orangtua dan sanak saudara, saya sadar bahwa tetangga adalah saudara terdekat yang suatu saat kita (pasti) akan minta bantuan mereka. Suka atau tidak, itulah kenyataannya. Contoh paling sederhana: ketika kita akan membuat kartu identitas. Siapa yang pertama dituju? Ketua RT, he must be 'a bapak-bapak' next door.
Satu setengah tahun pertama perkawinan, saya dan suami tinggal bersama mertua di Bandung. Hubungan antar tetangga di kompleks mertua ternyata enggak terlalu erat. Lha wong tetangga di jalan depan mau menikahkan anaknya aja, mertua enggak dapat undangan. Mungkin juga karena penduduknya disini heterogen sekali. Berbagai macam keluarga dari berbagai suku, agama, ras, adat-istiadat, pekerjaan, dll, ada disini semua. Saya sempat dapat undangan arisan di RT sini, tapi belum sempat datang. Padahal pengen tahu gimana sih rasanya bertetangga disini sekalian juga kenalan dengan keluarga2 lain.


Satu setengah tahun kedua, kita tinggal di rumah orangtua saya di Semarang karena suami pindah kerja di kota kelahiran tercinta saya. Karena ibu saya termasuk aktif dalam bertetangga, maka saya serahkan drama 'tetangga oh tetangga' pada beliau. Saya biasanya jadi tempat curhat Ibu tentang gosipan tetangga, dimintain iuran dan sumbangan RT. Karena disini saya kerja, makanya enggak pernah ikutan arisan. Kata Ibu, "Gak usah datang, (bun)Nda. Ikut iurannya aja." Yowes, manut aku.


Memasuki satu setengah tahun ketiga, Bapak-Ibu memilih melewatkan hari tua pulang kampung ke Tasikmalaya dan berniat menjual rumah di Semarang. Sementara rumah belum terjual dan kita sedang in search of rumah sendiri, kita tinggal di sana sementara waktu. Dari saat itulah saya merasakan kehidupan ‘bertetangga’ yang sebenarnya.
Rumah orangtua berada di  kompleks sebuah instansi pemerintah dan adalah tempat tinggal saya sedari bayi, jadi saya sudah mengenal dengan baik para penghuni di sana yang sebagian besar sudah berstatus Eyang. Saya sudah dianggap anak sendiri oleh para Eyang ini, maklum, kan mereka melihat tumbuh kembang saya dari bayi sampai dewasa dan juga karena saya jauh dari orang tua. Saya sering diberi nasihat, diberi berbagai tips memasak, mengasuh anak, sampai kisah yang berbau-bau sinetron hidayah. Mau mengurus surat macam-macam juga mudah, kan pak RT-nya bapaknya teman saya, pak RW-nya tetangga ex-ART, pegawai kelurahan juga sudah hapal nama Bapak saya.
Di kompleks ini, para warga  mempunyai rutinitas pertemuan bulanan, seperti arisan ibu-ibu, pertemuan bapak-bapak, PKK, bersih-bersih lingkungan dan akan otomatis bergotong royong apabila ada keluarga yang ‘punya gawe’ atau tertimpa kesusahan. Bisa dikatakan hubungan antar warga sangat erat, bahkan saking sudah dekatnya, bukan rahasia lagi apabila sesama penghuni sudah mengetahui ‘isi dapur dan keadaan ranjang rumah tangga’ keluarga lainnya. Untuk hal ini, saya selalu menjaga jarak aman untuk tidak terlalu banyak bercerita mengenai hal-hal pribadi rumah tangga. Sikap saya dan suami menjaga privacy ini kadang diartikan ‘tertutup’ dan ‘tidak guyub’.  Mungkin inilah yang dinamakan generation gap bertetangga antara generasi dulu dan generasi kini. Saya sempat ikutan PKK beserta para eyang lainnya. Kalau antar ibu2 lainnya saling memanggil dengan nama suami, sedangkan saya cukup dengan "Mbak Nina" #palingmuda. 


Setelah akhirnya kami mempunyai rumah baru, babak baru bertetangga dimulai lagi. Tempat tinggal kami berada di sebuah perumahan baru yang sebagian besar penghuninya adalah keluarga muda. Orangtua saya sempat melempar komentar, “Kalau banyak keluarga mudanya, orangnya cuek-cuek sama tetangga.” Benar gak sih?
Hari pertama tinggal, saya disapa dengan ramah oleh ibu tetangga sebelah rumah dan dilanjut dengan hari-hari berikutnya. Ibu ini punya bayi laki-laki montok yang sampai sekarang dianggap Ayesha seperti adik sendiri.  Minggu ketiga, saya sekeluarga diundang untuk buka puasa bersama warga satu dawis (dasa wisma PKK) sekalian menjadi ajang perkenalan dengan tetangga lainnya. Kebetulan memang kepindahan kami bertepatan dengan bulan Ramadan. Bulan berikutnya, kami menghadiri acara halal bihalal dengan seluruh warga, dan masih di bulan yang sama, saya dan suami sudah diminta ikut serta dalam acara arisan, PKK, gotong royong dan posyandu. Ternyata rutinitas pertemuan warga di pemukiman baru enggak jauh berbeda dengan kompleks para Eyang. Biarpun sebagian ibu-ibunya wanita bekerja, banyak mereka yang mau ikut arisan loh. Saya juga suka heran sama ibu bekerja (padahal posisinya masih kuli) tapi suka ogah ikutan kegiatan bertetangga. Alasannya, "Ah, disana biasanya cuman nge-gosip aja." Ih padahal gosip office politics di kantor kan lebih serem, emang dikira saya enggak pernah bekerja ya! 
Sebagai pemukiman keluarga muda, banyak diantaranya yang masih mempunyai anak balita. Ayesha (4 tahun 2 bulan), anak saya, cukup senang berada di rumah barunya karena dia sekarang mempunyai teman bermain sebaya lebih banyak. Tiap sore kerjanya maiiiiiiinn keluar rumah aja. Katanya, "Aku mau jalan-jalaaaaan". Tobat aku. Kaki gempor ngikutin jalannya larinya Ayesha. Mulut cape teriak-teriak mulu, "Awas, minggir. " "Jangan lari." "Ah, enggak usah ke rumah X, jauh." 


Enggak terasa hampir setahun tinggal disini dan saya sedikit banyak sudah mengenal para penghuni di lain blok. Etika bertetangga, bila bertemu sapalah, atau senyumlah. Jadi sebagai tetangga yang mencoba baik, kalau ketemu dengan tetangga, saya mencoba tersenyum, tetapi apabila tidak dibalas senyum? Sekali tidak dibalas senyum, dua kali juga tidak, yasud aku pun tidak tersenyum seterusnya. Ngambek nih yeee. Huh.


Eh, jadi pandangan mengenai cuek itu beneran ya? Ah, ya sudah lah, toh tidak semuanya seperti itu. Saya malah jadi ingat dengan theme song opera sabun Neighbours yang kondang di tahun 80-90 an :
Neighbours, everybody needs good neighbours , Just a friendly wave each morning, helps to make a better day
Neighbours, need to get to know each other, Nextdoor is only a footstep away
Neighbours, everybody needs good neighbours, With a little understanding, you can find the perfect blend
Neighbours, should be there for one another, That’s when good neighbours become good friends


Masih banyak kok tetangga yang baik dan ramah di luar sana. Malah tetangga saya suka ngasih tahu kalau misalnya pas saya keluar rumah ada tamu ketok-ketok pagar, ada tetangga yang kemalingan, tetangga melahirkan, ngajakin menengok anak tetangga yang sakit, kasih hadiah ultah. Manfaat lain berteangga, terutama buat suami-istri bekerja, anak di rumah cuma sama ART, pasti butuh tetangga buat ikutan mengawasi kondisi anak di rumah. 


Percaya deh, tetangga lebih bisa diandalkan daripada teman kantor, teman kongkow, teman fesbuk, atau follower.

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe